SEKILAS INFO
04-07-2020
  • 12 bulan yang lalu / Efektif Pembelajaran Tahun Pelajaran 2019/2020 di mulai Hari Senin Tanggal 15 Juli 2019
  • 2 tahun yang lalu / Tgl 04 – 10 juni 2018 : camp IT with Microtik Academik Tgl 09 juni 2018 : pembagian raport Tgl 10 juni – 15 juli 2018 : libur akhir tahun pelajaran
  • 2 tahun yang lalu / Tgl 14 – 16 mei 2018 : libur awal bulan suci ramadhan Tgl 17 – 19 mei 2018 : sanlat bulan ramadhan (wajib) berlaku absen Tgl 21 – 26 mei 2018 : penilaian akhir tahun (PAT) 2018
2
May 2019
0
Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Revolusi industri 4.0 tidak bisa dibantah lagi. Dunia pendidikan pun harus merespons cepat dan mau berubah. Jangan sampai, manusia tertinggal jauh dari mesin atau teknologi digital. Proses pembelajaran pun harus mampu menghasilkan anak didik atau lulusan yang kompeten. Pendidikan yang berbasis kompetensi dan kreativitas.

Sungguh, mencari cara untuk membenahi dunia pendidikan di Indonesia tidak mudah. Dunia pendidikan makin dihadapi tantangan besar. Belum lagi mencari cara yang pas untuk merespons era revolusi industri 4.0. Berharap adanya kualitas pendidikan di Indonesia bisa jadi masih angan-angan. Terlalu banyak batu sandungan, membuat dunia pendidikan terus-menerus jadi polemik. Mulai dari soal kekerasan di sekolah, kurikulum, kualitas guru, model pembelajaran, hingga korupsi di dunia pendidikan.

Suka tidak suka, era pendidikan 4.0 harus didengungkan. Pendidikan yang mampu merespons otomatisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan adalah harga mati. Hanya pendidikan berbasis kompetensi dan kreativitas yang bisa mengimbangi laju revolusi industri 4.0.

Di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, inilah momentum semua pihak untuk berpikir ulang tentang cara memajukan pendidikan Indonesia. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Semua elemen masyarakat harus terlibat untuk membenahi dan memajukan dunia pendidikan. Urusan pendidikan, masyarakat harus merasa memiliki, pemerintah harus memfasilitasi, dunia bisnis harus peduli, pendidik dan anak didik harus menyadari makna pendidikan yang sebenarnya.

Refleksi dunia pendidikan di Hari Pendidikan Nasional

Pendidikan 4.0 harusnya dilandasi dengan “gerakan” yang bertumpu pada rasa memiliki dari semua pihak terhadap masa depan pendidikan. Pendidikan bukan sekadar “program” yang dianggap sebagai kegiatan dan tanggung jawabnya terbatas pada para pelaksana pendidikan. Tapi, semua pihak harus mau dan bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika pendidikan.

Pendidikan 4.0 pun harus mampu mengemas upaya pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter, berkepribadian. Ikhtiar mengembalikan kesadaran tentang pentingnya pendidikan berkarakter menjadi tanggung jawab semua pihak, semua elemen masyarakat. Agar tujuan pendidikan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab dapat diwujudkan.

Era pendidikan 4.0 intinya mengajak kita untuk melakukan introspeksi diri, mengukur apa yang sudah benar dan apa yang masih salah dalam proses pendidikan selama ini.

Era pendidikan 4.0, mau tidak mau, mendesak dunia pendidikan untuk berpikir ulang dan merevitalisasi pendidikan yang bertumpu pada:

Pertama, revitalisasi sekolah sebagai sentra pendidikan yang mandiri dan berkarakter. Sekolah seharusnya menjadi penentu arah pembelajaran yang berbasis proses dan rasa cinta, agar siswa menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter. Sekolah bukan pelaksana kurikulum, melainkan harus mampu menjadi basis pengembangan budaya dan karakter siswa.

Kedua, guru sebagai fasilitator pembelajaran. Guru harus mampu mengendalikan konten dan arah pembelajaran yang jelas, di samping menjadikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Guru harus memiliki kreativitas dan keberanian untuk menuntun siswa dalam menemukan pelajaran dan bidang yang disenanginya.

Ketiga, kesetaraan sebagai orientasi pendidikan, bukan kesempurnaan. Praktik dan perilaku belajar harus didorong untuk membangun kesetaraan, bukan kesempurnaan. Orientasi pendidikan adalah membangun kerjasama, bukan kompetisi antar siswa. Belajar bukan sarana untuk mencapai nilai tinggi, melainkan untuk membangkitkan gairah siswa dalam belajar. Kegiatan belajar bukan bergantung pada “kunci jawaban”, tetapi bertumpu pada “pengertian”.

Keempat, siswa berpegang pada proses dalam belajar, bukan hasil belajar. Proses agar siswa berani bertanya dan tidak takut salah. Karena dengan cara itu, siswa akan mampu mengeksplorasi potensi diri, di samping dapat memacu kreativitas dalam belajar. Hasil belajar bukan satu-satunya indikator keberhasilan siswa dalam belajar.

Kelima, pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif. Adanya kesadaran akan makna pendidikan dan upaya bersama menyelesaikan problematika pendidikan. Semua elemen masyarakat harus terlibat dalam proses dan dinamika pendidikan. Karena pendidikan bukan sekadar program, melainkan gerakan moral bersama untuk memajukan harkat dan martabat bangsa.

Keenam, pendidikan adalah mitra revolusi industri 4.0. Kemajuan teknologi dan digitalisasi menjadi pemantik akan pentingnya perubahan di dunia pendidikan. Karena produk pendidikan harus mampu menangani perkembangan teknologi sepesat apapun.

Maka, pendidikan 4.0 dalam praktiknya tidak boleh menjejali siswa dengan beragam materi pelajaran. Pendidikan bukan untuk mengejar nilai semata, lalu melupakan proses. Pendidikan 4.0 hakikatnya bukan hanya menjadikan produk sekolah dan perguruan tinggi sebagai “jawaban” atas masalah kemanusiaan.

syarif-yunus